Waktu dan Cara Panen Sawit yang Baik dan Benar

Saat ini, Indonesia memiliki perkebunan karet rakyat terluas di dunia dan menjadi sektor penyumbang devisa negara terbesar yakni senilai 40 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp581 triliun.

Dewasa ini komoditi sawit menjadi penghasilan utama yang diandalkan oleh pemilik kebun. Namun, produktivitas sawit yang dikelola oleh rakyat terbilng rendah. Bahkan, pada beberapa tahun terakhir, produktvitasnya tarpaut jauh dibandingkan perkebunan besar negara dan swasta.

Mungkin beberapa di antara Anda telah terbiasa dan sangat handal dalam panen sawit serta sudah tahu waktu yang tepat dalam panen sawit berkat segudang pengalaman yang sudah diperoleh. Namun, tidak ada salahnya untuk sekedar menambah ilmu dan mencoba cara baru yang mungkin lebih cocok, bukan? Kalau begitu, langsung saja simak uraian tentang waktu dan teknik memanen sawit yang benar.

Apa itu Panen?

Panen adalah serangkaian kegiatan mulai dari memotong tandan matang panen sesuai kriteria, mengutip dan mengumpulkan brondolan, menyusun tandan di tempat pengumpulan hasil, hingga meletakkan pelepah di gawangan mati.

Pemanenan merupakan pekerjaan utama di perkebunan kelapa sawit karna menjadi sumber pemasukan uang bagi pemilik melalui penjualan minyak kelapa sawit (MKS) dan inti kelapa sawit (IKS). Cara panen yang tepat akan mempengaruhi kuantitas produksi (ektrasi), sedangkan waktu panen yang tepat akan mempengaruhi kualitas produksi (asam lemak bebas atau FFA).

Waktu Panen Kelapa Sawit

Pada umumnya kelapa sawit mulai berbuah setelah umur 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan.

Buah sawit bisa dipanen ketika berumur 31 bulan. Namun tidak semua buah kelapa sawit bisa dipanen secara bersamaan. Jika Anda memanen buah sawit sebelum matang, maka kelapa sawit tidak akan menghasilkan kualitas produk yang baik kedepannya.

Kapan buah sawit matang?

Buah kelapa sawit dikatakan matang apabila terjadi perubahan pada warna kulit, buah akan berubah menjadi warna merah jingga ketika matang. Kandungan minyak dalam buah akan mencapai maksimal dalam keadaan matang, sehingga apabila buah sudah mencapai kandungan minyak maksimal, maka buah tersebut akan jatuh atau yang biasa disebut “membrondol”.

Buah / TBS Matang Panen

Adapun waktu yang baik untuk melakukan panen adalah ketika terdapat 2 brondolan (sudah ada 2 buah lepas dari tandannya atau jatuh kepiringan) untuk tiap tandan. Untuk tandan lebih dari 10 kg dipakai 1 brondolan harus sudah ada yang jatuh ditanah. Namun kondisi ini perlu di sesuaikan dengan kondisi setempat misalnya untuk areal rawan pencurian kriteria tersebut dapat diperkecil untuk mengurangi resiko pencurian. Dengan adanya brondolan yang jatuh ketanah maka pemanenan tidak perlu meliahat keatas.

Tingkat kematangan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna. Buah kelapa sawit yang masih mantah berwarna hijau, karena pengaruh pigmen klorofil. Selanjutnya, buah akan berubah menjadi merah atau orange akibat pengaruh pigmen beta karoten. Kondisi tersebut menandakan minyak sawit yang terkandung dalam daging buah telah maksimal dan buah sawit akan lepas dari tangkai tandannya.

Produktivitas Sawit Per Hektar

Dilansir dari Asianagri.com, kelapa sawit mempunyai kelebihan dibanding komoditas pertanian lainnya yaitu memiliki produktivitas yang optimal dan efisien dalam penggunaan lahan. Kelapa sawit sendiri memanfaatkan 6% lahan di dunia namun mampu menghasilkan 7 – 10 kali dibanding komoditas lainnya. Kelapa sawit dapat menghasilkan 4.17 ton per hektar, jauh berbeda dengan tanaman lain. Kedelai misalnya, hanya mencapai 0.39 ton per hektar.

Tingkat produksi sawit bervariasi dan bergantung pada umur tanaman sawit. Berikut adalah rata-rata produksi TBS sawit per hektar dalam 1 kali panen berdasarkan umur tanam:

  • Kelapa sawit berumur 3 tahun : 0.6 ton/hektar
  • Kelapa sawit berumur 4 tahun : 0.8 ton/hektar
  • Kelapa sawit berumur 5 tahun : 1.2 ton/hektar
  • Kelapa sawit berumur diatas 5 tahun : 1.5 ton/hektar

Cara Panen Sawit yang Tepat

Cara panen buah kelapa sawit yang baik adalah dengan memotong tandan buah segar (TBS) dan memotong pelepah daun yang menghalangi proses pemotongan TBS. Saat ini Indonesia menggunakan 2 jenis alat panen tradisional, yaitu: dodos dan egrek. Pemanenan dengan metode dodos menggunakan pisau dengan bentuk chisel sedangkan egrek menggunakan pisau bentuk sickle atau arit. Dodos pada umumnya digunakan untuk pohon kelapa sawit dengan ketinggian 2-5 m, sedangkan egrek, untuk pohon kelapa sawit dengan ketinggian 5 m atau lebih. Kedua alat ini membutuhkan tenaga yang besar dari pemanen karena memotong TBS dilakukan gerakan menusuk untuk dodos dan gerakan menarik untuk egrek.

Adapun alat-alat untuk menunjang kegiatan panen sawit ialah :

  • Dodos dan Engrek (alat utama untuk panen sawit)
  • Kampak (untuk membuat tangkai pendek/ cangkem kodok),
  • Keranjang (untuk mengumpulkan brondolan),
  • Goni (untuk meletakkan brondolan di TPH),
  • Ganco (untuk mengangkat TBS ke kereta sorong).
  • Kereta Sorong / angkong (Untuk Mengangkut TBS ke TPH)
  • Alat pelindung diri (APD) (termasuk Helm , kaos tangan, dan sepatu)

Cara Panen

  1. Pelepah yang menyangga (songgo) buah matang dipotong mepet batang.
  2. Pastikan buah mentah diatasnya disangga dua pelepah (songgo dua).
  3. Tandan buah matang dipotong tangkainya mepet ke batang
  4. Brondolan di ketiak pelepah diambil (dikorek).
  5. Tandan dibawa ke jalan pikul, tangkai panjang dipotong mepet tandan (2 cm dari pangkal buah).
  6. Brondolan di piringan dikumpulkan semua.
  7. Pelepah dipotong 3 bagian dan disusun di gawangan mati sejajar jalan pikul.
  8. Brondolan dan TBS dikumpulkan di TPH.
  9. Nomor pemanen ditulis pada tangkai tandan.

Itulah uraian tentang waktu dan cara panen sawit yang benar. Dengan memperhatikan waktu yang tepat untuk panen sawit, tandan buah segar yang didapatkan pun akan akan semakin banyak.

Bagikan Artikel Ini :